Rabu, 30 Januari 2008

Aku Terlahir 500 gr dan Buta



suarasurabaya.net
Judul Buku : Aku Terlahir 500 gr dan Buta Penulis :
Miyuki Inone Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal : 183 halaman

Beratku hanya 500 gram waktu dilahirkan. Dokter yang bekerja di rumah sakit tempatku dilahirkan bercerita bahwa ibu tidak bisa mendengarkan penjelasannya karena matanya sudah dibanjiri air mata melihatku yang begitu kecil. Kelima jariku sebesar korek api. Kepalaku sebesar telur, pinggulku sebesar jari kelingking orang dewasa. Selama 7 bulan aku dibesarkan dalam inkubator di rumah sakit. Ibu setiap hari menengokku, tidak peduli apakah saat itu sedang turun hujan atau salju, bahkan ibu tidak membawa payung. Ibu selalu mengajak bicara dan membelai kepalaku. Jika ibu memberikan jarinya, aku segera meraih dan menggenggamnya (Miyuki) Sinopsis : Miyuki berhasil merekam kejadian yang dialami ibunya saat mengandung dirinya dan kenapa dia harus memiliki berat 500 gram saat terlahir ke dunia. Mungkin bagi remaja lain seusia sama dengan Miyuki (15 tahun), akan malu mengetahui dirinya lahir di luar nikah. Tapi Miyuki bercerita apa adanya meski tidak pernah mengenal bapaknya yang meninggal sebelum sempat menikahi ibunya. Padahal saat itu pula ibunya mengandung 6 bulan. Akibat shock mendengar kematian calon suaminya, Miyuki terpaksa lahir ke dunia. “Aku tetap terbaring tak berdaya antara hidup dan mati, dengan jantung dan organ-organ dalam tubuh yang belum sempurna. Beberapa kali aku juga hampir berhenti bernafas,”cerita Miyuki menggambarkan dirinya saat itu berusia 3 hari di inkubator. Cerita terus mengalir dengan indahnya ketika Miyuki memasuki sekolah TK. Keberanian ibunya mengalir dalam darahnya untuk mencoba segala hal dan merasakan aktivitas orang normal lainnya. Belajar sepeda, ya itulah pengalaman yang menantang bagi Miyuka kecil, yang buta tapi dipaksa ibunya belajar sepeda. Berkat usaha tanpa pernah menyerah, Miyuki akhirnya berhasil naik sepeda. Kesabaran dan keberanian si ibu mendampingi Miyuki menapak kehidupan, akhirnya berbuah prestasi dan Miyuki bisa menjalani kehidupan seperti orang normal lainnya. Miyumi malah punya cita-cita yakni jadi pekerja sosial dan ingin melihat ibunya mengalirkan air mata bahagia. Deskripsi : Dari membaca buku ini, kita bisa belajar tentang sebuah semangat untuk bertahan hidup. Jangankan bagi yang memiliki tubuh normal tanpa cacat, bagi Miyuki untuk bisa menjalani kehidupan selama 15 tahun, itu sesuatu yang luar biasa. Dan itu dijalani dengan penuh perjuangan untuk bisa mensejajarkan diri dengan orang-orang normal yang berada di sekelilingnya. Bahkan dalam dirinya, sudah ditanamkan kemauan tidak ingin tertinggal dengan siapa pun. Ini terbukti banyak prestasi yang ditunjukkan Miyuki selama duduk di bangku sekolah SMP hingga SMA. Perjuangan yang cukup berat dari Miyuki tidak lepas dari peranan ibunya. Buku cerita kehidupan Miyuki ini layak dibaca oleh siapa saja. Gaya bahasa yang disampaikan cukup mudah dimengerti meski sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Semoga buku ini makin membuka mata hati kita, bahwa siapapun bisa berprestasi tanpa dibatasi ketidaksempurnaan tubuh yang kita miliki. Dan itu sudah dibuktikan Miyuki. Cerita yang disampaikan Miyuki sangat menyentuh perasaan. Tidak mengherankan kalau buku ini menjadi best seller dan dicetak ulang hingga kali ke sepuluh.

Senin, 28 Januari 2008

Perjalanan ke Palu

ENTAH kenapa aku begiu susah untuk mengawali menuliskan pengalaman perjalanan ku ke kota Palu, Sulawesi Tenggah, 21-25 Januari 2007. Bahkan, ketika masuk dalam kalimat ini, aku masih mengalami kesulitan. Entahlah kenapa. Mungkin ini semua disebabkan beberapa kejadian sebelum berangkat yang tidak membuatku nyaman.
Pertama adalah tiket yang dibelikan kantor. Awalnya, aku berangkat ke Palu Senin, 21 Januari 2007 pukul 17.00 WIB. Tapi Sabtu sore aku di telp kantor yang mengabarkan bahwa jam keberangkatan ku berubah jadi pukul 08.45 WIB. Saya pun diminta untuk ganti tiket. Sabtu sore itu juga saya ke Anta Travel untuk ganti tiket. Hujan deras yang turun tak menyurutkan niatan ku untuk ke Anta Travel, di Jalan Bengawan Surabaya. Tapi, sesampainya di sana, travel sudah tutup."Kalo Sabtu, tutup jam 1 siang mas," kata petugas penjaga di pos keamanan. Dengan penuh kekecewaan, akhirnya saya pulang.
Pertanda buruk kedua adalah, pada hari Minggu atau sehari sebelum berangkat. Minggu siang, aku kembali menggurus soal tiketku ke Bandara Juanda Surabaya. Sesampainya di bandara, ternyata petugas tiket tidak bisa melayani karena sedang libur. Ah, sial sekali aku ini.
Apakah ini sebagai pertanda buruk terhadap perjalanan LOT ku ke Palu? Ternyata dugaan ku gak meleset. Diawali dari Bandara Hasanudin Makasar, tempat saya transit sebelum melanjutkan ke Palu. Saya tiba di bandara Hasanudin Makasar ini pukul 11 siang WITA. Artinya saya harus menunggu di bandara 5 jam di Bandara. Bisa dibayangkan, 5 jam menunggu di bandara sendirian. Rupanya kesialan ku gak berhenti disitu. Pesawat yang ke Palu sedianya berangkatjam4, ternyata mengalami keterlambatan hingga jam 5 sore. Artinya, pesawat ke Palu baru berangkat jam 5 sore. Artinya lagi, saya harus menunggu 1 jam lagi. Total, 5 jam nunggu di bandara.
Akhirnya, pesawat ke Palu berangkat juga sekitarpukul 5 sore. Sekitar 45 menit perjalanan ke Palu, kunikmati betul indahnya alam ciptaan Tuhan. Aku begitu menikmatinya, hingga aku tak sadar tertidur. tahu-tahu, pesawat ku telah mendarat di Bandara mutiara Palu. Saat menunggu bagasi, muncul sosok yang blum pernah aku temui : Jafar Galunggung Bua. DIa adalah koresponden TransTV di Palu, Sulawesi Tengah. Jafar adalah sosok yang lucu, unik dan punya totalitas bekerja. Semangatnya luar biasa dalam bekerja. Aku bersyukur pernah mengenalnya dan pernah bekerjasama dengan dia.

Poligami dan Poliandri

Waktu itu lagi asiik ngbrol ama temen gue, cewek yang rencananya mau nikah bulan2 ini ...
sampe akhirnya ngomongin tentang poligami. Komentarnya memang agak nyebrang, malahan jadi ngebahas poliandri.....katanya gini nih ...
"Menurut daku, yang diperlukan oleh seorang anak bukanlah siapakah lelaki yang menyumbangkan seciprat sperma untuk membuat dirinya, tapi siapakah yang berperan sebagai sosok seorang ayah sesungguhnya dalam pertumbuhannya.

Justru dengan sistem 4 ayah 1 ibu, anak-anak diuntungkan karena lebih banyak yang melindungi mereka jika ada apa-apa. Bahkan mungkin ada baiknya jika ke-empat ayah tersebut mengatur shift kerja mereka sehingga setidaknya ada 1 ayah yang selalu berjaga di rumah setiap saat. Menjaga keluarga dari marabahaya. (Misal: Kalau ada perampok yang masuk rumah, setidaknya ada seorang lelaki dewasa yang akan melindungi ibu dan anak-anaknya)

Selain itu, 4 ayah berarti adanya 4 tulang punggung keluarga. (EMPAT saudara-saudara!!! E-M-P-A-T!! bukan 1 atau 2 atau 3, tapi EMPAT sumber pemasukan keluarga!!) Jadi secara keseluruhan, kesejahteraan keluarga menjadi lebih baik.

Biaya perawatan anakpun lebih terjamin. Jika yang 1 terkena PHK, masih ada 3 lainnya yang bekerja. Tentunya yang terkena PHK itu juga akan merasa gengsi dan malu terhadap 3 suami lainnya, sehingga ia akan berusaha mendapatkan kerja secepatnya.

Poliandri juga baik untuk mengurangi jumlah penduduk. Sebab, walaupun ada 4 pejantan yang siap membuahi, tapi pabrik anaknya cuma 1!! Jadinya ya dalam jangka panjang akan mengurangi jumlah penduduk dan anak-anak yang dibuat pun diharapkan lebih "berkualitas" ... (Ya itulah, karena biaya perawatan anak datang dari 4 sumber pemasukan) Intinya: turunkan kuantitas, naikkan kualitas!!

Kalau poligami bisa mengakibatkan persaingan di antara para istri dan anak-anaknya, poliandri mungkin bisa memberikan efek perdamaian. Sebab pada saat seorang anak tidak jelas siapa ayahnya (Pokoknya di antara 4 itu! Eh, diluar 4 itu juga bisa ding), maka para ayah akan tetap memberikan perhatian kepada si anak. Masing-masing ayah akan menganggap anak tersebut adalah anaknya. (Kalau dipoligamikan, bisa ada resiko setiap anak membangga-banggakan ibunya doang dan menjelekkan ibu dari anak yang lain)

Para ayah tersebut punya teman untuk ngobrol malam-malam, teman untuk main catur, main panco (Kalau mau juga bisa buat turnamen kecil- kecilan) ataupun main kartu (Pas 4 orang! Cocok buat maen capsa, maen mahjong juga bisa). Nonton bola di rumah pun menjadi lebih semarak!

Dengan sistem 4 suami pula para pria bisa belajar menekan rasa egoisnya dengan saling berbagi, bertoleransi dan bersabar. Ingat, Tuhan suka orang sabar. Rewelnya istri pun menjadi lebih berkurang. Bayangkan jika seorang suami punya 4 istri. Maka dalam 24 jam, akan ada 4 orang istri yang berpotensi untuk mengomel dan mengeluh di kuping suami. Tapi JIKA 4 suami 1 istri, maka rata-rata kemungkinan masing-masing suami di-rese- in istri adalah maksimal 6 jam sehari. (Dengan asumsi ngawur bahwa sang istri mengomel selama 24 jam non-stop)

Sudah menjadi pengetahuan umum pula jika umur harapan hidup pria lebih pendek. Jadi, setidaknya jika seorang suami mati, sang istri tidak akan langsung menjadi janda, masih ada 3 orang suami yang menemani. Sementara jika sang istri yang mati, maka para suami bisa memilih untuk segera kawin lagi atau menjomblo. (Point bebek di sini: Kalau seorang wanita menjadi janda, maka ia lebih sulit untuk mencari suami daripada seorang duda mencari istri)

Sekarang mari kita tinjau dari sudut seksualitas. Sudah menjadi keluhan umum di rubrik konsultasi kalau banyak wanita gagal mencapai orgasme karena suami cepat selesai atau tidur begitu saja setelah mencapai puncak. Padahal pada umumnya, wanita itu lebih lambat panas daripada pria.

Nah. dengan adanya 4 suami, maka suami-suami tersebut bisa ber- estafet ria. Jika istri lambat panas dan blum panas-panas juga, maka jangan kuatir, masih ada rekan anda yang akan meneruskan perjuangan membawa istri menuju ke puncak kenikmatan. (Menuju puncak, gemilang cahaya, mengukir cinta, SEJUTA RASA.. Kyaaaaaaa.!! )

Poliandri secara sekilas juga sesuai dengan kodrat seks manusia. Laki-laki pada umumnya hanya dapat orgasme 1 kali lalu keabisan tenaga,sementara wanita bisa orgasme berkali-kali, bahkan organ seksualnyapun tidak usah membutuhkan persiapan terlalu banyak seperti halnya laki-laki. ( Kan harus nungguin Joy-sticknya berdiri dulu.)

Jika wanita berhalangan pun (Entah apapun alasannya.), laki-laki bisa dengan mudah swalayan karena organ seksnya terbuka dan menggantung di luar tubuh. (Tidak seperti perempuan yang organnya lebih tersembunyi, jadi lebih ribet kalau mau swalayan)


Akhir kata, saya menyimpulkan (lagi-lagi) secara SEPIHAK bahwa poliandri "lebih baik" daripada poligami."

Nah loh ............Ada pepatah mengatakan ;
"Laki2 seperti botol coca cola : biar isi berceceran dimana2 yang penting botol dipulangin".
"Perempuan seperti kulkas : biarpun gak kemana2, tapi dpt menyimpan beberapa botol sekaligus di dalam nya".

Pak Harto Mangkat



Dokumentasi Harian Kompas dan Persda Network. (dari kiri ke kanan) Potret HM Soeharto dari tanggal 6 Maret 1956 sampai 5 Mei 2006. Mantan Presiden RI dan penguasa orde baru ini dinyatakan wafat pada 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan.
(FILE KOMPAS-PERSDA NETWORK/BIAN HARNANSA


Monday, 28 January 2008
JAKARTA, Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Mantan presiden kedua RI, HM Soeharto tutup usia Minggu (27/1), setelah menjalani perawatan intensif selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Pak Harto, yang lahir di Yogyakarta 8 Juni 1921, meninggal dunia tepat pukul 13.10 WIB, dalam usia belum genap 87 tahun. "Telah wafat dengan tenang bapak Haji Muhammad Soeharto pada pukul 13.10 WIB di RSPP. Semoga amal beliau diterima dan diampuni dosanya oleh Yang Maha Kuasa," ujar Dr Mardjo Soebiandono, kepala Tim Dokter Kepresidenan dalam keterangannya kepada wartawan.

Jumpa pers singkat, selama lima menit, terasa mengharukan. Mata tim dokter tampak berkaca-kaca. Pihak keluarga menangis haru. Tiga anak Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), Siti Hediati Hariadi (Mbak Titiek) dan Sigit Harjojudanto yang ikut bersama tim dokter tampak sangat kehilangan. Tutut, Titik dan Sigit yang mengenakan baju hitam, dan mata mereka sembab.
"Asragfirullah...astagfirullah...astagfirullah.., inna lillahi wa inna illaihi roji'un," kata Tutut dengan suara terisak mengawali keterangannya.

Putri sulung Soeharto itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjenguk ayahnya selama di rawat di RSPP. Juga, pihak yang telah ikut memberikan bantuan doa kepada Soeharto. "Saya mewakili keluarga memohon agar semua kesalahan bapak dimaafkan. Semoga diterima semua amal baiknya dan diampuni semua dosanya," kata Tutut sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan putih.

Tim dokter yang merawat Soeharto menegaskan, wafatnya Soeharto disebabkan karena kegagalan multiorgan. Namun, beberapa dari mereka menyebut bahwa wafatnya Soeharto terjadi begitu cepat. Begitu pengakuan sejumlah dokter yang merawat Soeharto. "Saat saya meninggalkan rumah sakit pukul 23.00 WIB Sabtu (26/1) malam, kondisi Pak Harto sangat baik. Kesadaran masih bagus. Pernafasan juga bisa spontan. Beliau juga masih bisa makan," kata Dr Christian A Johannes, anggota tim dokter

Apalagi, fase sangat kritis bukanlah hal baru bagi Soeharto. Sebelumnya, Soeharto mampu melewati tiga kali fase sangat gawat. Pada Jumat, 11 Januari silam, kondisi Soeharto sangat kritis. Bahkan, kabar ia meninggal sudah beredar. Kediaman di Cendana juga bersiap-siap. Namun, kondisinya membaik. Begitu juga saat kembali mengalami fase kritis pada 13 dan 15 Januari, Soeharto mampu melewatinya dan membaik.

Namun, tubuh Soeharto tidak mampu kembali ke kondisi membaik saat menghadapi fase kritis keempat kalinya kemarin. Setelah Sabtu (26/1) pukul 23.00 WIB membaik, pada Minggu (27/1) dini hari pukul 01.00 WIB, kondisi Soeharto mendadak memburuk. Terjadi sesak nafas yang diikuti dengan tekanan darah yang terus menurun.

Tim dokter kemudian melakukan tindakan resusitasi dengan mengambilalih pernafasan 100 % dengan ventilator (alat bantuan pernafasan). Tapi, bukannya membaik, pada pukul 03.00-07 WIB, kondisi Soeharto makin menurun.
Tanda-tanda kondisi Soeharto makin gawat terlihat saat tim dokter menggelar jumpa pers pada pukul 10.00 WIB. Tim dokter menyebut kondisi Soeharto pagi itu adalah yang terburuk sejak dirawat di RSPP. Bahkan, mereka menggunakan kata “laporan khusus” untuk jumpa pers pagi itu guna menekankan kondisi gawat Soeharto itu.
"Kondisi pagi ini yang paling jelek selama beliau dirawat. Tapi, kami akan tetap berupaya maksimal. Namun, Tuhan yang menentukan," ujar Dr Mardjo.

Dan memang, dokter hanya mampu berupaya untuk melakukan tindakan pertolongan. Tuhan yang menentukan. Pukul 13.10 WIB, Soeharto berpulang, meninggalkan dunia.
"Wafatnya Pak Harto terjadi begitu cepat. Kami begitu percaya kondisinya membaik. Itu karena empat hari terakhir, masalah jantung sudah teratasi. Begitu juga dengan masalah pada organ lainnya. Dan sejak kritis dinihari tadi, tim dokter juga sudah melakukan segala upaya. Tapi, darah sudah naik ke atas (otak). Obat-obatan juga tidak bisa direspon," ujar Dr Ahmad Munawar, juga anggota tim dokter.

Kabar meninggalnya Soeharto itu kali pertama diberitahukan oleh Kapolsek Kebayoran Baru, Ricky Sandoni. Sekitar pukul 13.15 WIB, Ricky turun dari lantai 5 RSPP (tempat Soeharto dirawat) dan mengabarkan kabar duka tersebut.
Suasana di RSPP pun mendadak riuh. Polisi berjaga ketat. Satu peleton pasukan Kopassus sat 81 juga berbaris di depan RSPP.
Ratusan manusia berjubel-jubel di pintu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSPP. Selain warga sekitar RSPP, para pembesuk pasien di RSPP juga ikut berhamburan keluar. Jalanan penuh sesak. Beberapa warga tampak juga memanjat pohon di luar pagar RSPP demi melihat momen tersebut. Mereka ingin menyaksikan langsung detik-detik dimasukkannya jenazah almarhum Soeharto ke mobil ambulans untuk dibawa ke Jalan Cendana 8, Menteng, Jakarta, untuk kemudian dimandikan.

Pukul 14.35 WIB, jenazah Soeharto dimasukkan ke mobil ambulans. Dengan dikawal dua mobil patwal, juga diikuti tujuh mobil yang ditumpangi keluarga, sirine ambulans meraung dan meninggalkan RSPP.
Dalam perjalanan menuju ke Cendana, tampak sejumlah warga di pinggir jalan memberi penghormatan pada iring-iringan mobil pembawa jenazah. Namun, beberapa di antara mereka ada juga yang berujar “Itu (ambulans) Presiden Soeharto”.

Sekitar pukul 14.55 WIB, jenazah Soeharto tiba di rumah keluarga Jl. Cendana. Saat mobil jenazah berwarna biru telur masuk ke halaman rumah, sejumlah perempuan pelayat langsung menyambutnya dengan teriakan histeris. Hanya selang beberapa detik, pintu gerbang rumah langsung ditutup.
Pada pukul 21.00 WIB, pintu gerbang Cendana dibuka, dan masyarakat umum diberi kesempatan untuk melayat meski dengan seleksi cukup ketat.jbp/had/ant


Memaafkan Soeharto dan Siapapun

 Monday, 28 January 2008
“Dengan Memaafkan, kita membangun jembatan ke masa depan”(Sydney Newton Bremer) Memaafkan atau mengampuni ternyata bisa menjadi masalah yang pelik di negri ini, apalagi terkait mantan presiden Soeharto. Ada saja pertanyaan, gugatan atau reaksi setiap kali ada ajakan untuk memaafkan mantan penguasa Orba itu. Misalnya ajakan Amien Rais agar bangsa ini, termasuk warga Jatim memaafkan Pak Harto (Surya, 15/1/hal 1).
Berbagai kritik balik menyerang Amien seperti bisa kita baca di milis-milis, karena dia dianggap sebagai salah satu tokoh Gerakan Reformasi 1998 yang paling lantang mengecam dan meminta Pak harto lengser, tapi kini tiba-tiba berubah pikiran. Sultan Hamengku Buwono X juga mempertanyakan (Surya 16/1).

Ada yang menilai ajakan memaafkan Soeharto adalah sebuah sikap gedhe rasa (GR), karena Pak Harto tidak pernah minta maaf selama sehat dulu, meskipun anak cucunya pernah memintakan maaf atas semua kesalahannya. Kalau Pak Harto tidak pernah minta maaf, karena dia merasa tidak berbuat salah seperti dituduhkan oleh para penetangnya, maka apa bisa kita memaafkan orang yang tak mau minta maaf? Meskipun sejarawan Asvi Warman Adam pernah menulis 10 Dosa Besar Soeoharto di sebuah media Jakarta, tapi kalau Pak Harto tidak merasa berdosa, apa perlunya kita memaafkannya?

Hari-hari inipun, penulis juga repot menjawab pertanyaan apakah dari persepektif agama, kita perlu memaafkan Soeharto? Semua agama, seperti Islam, Yahudi dan Kristen tentu mengajarkan betapa mulianya memaafkan kesalahan orang lain. Islam mengajarkan:” Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS Asy Syuura [42]: 43).

Allah SWT juga berfirman,” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat [41]: 34).

Dalam ajaran Kristen, mulianya memaafkan tampak dari pertanyaan Petrus. Suatu ketika Petrus bertanya kepada Yesus, "Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Matius 18:21-35). Pada jaman itu, para guru agama Yahudi mengajarkan umat harus mengampuni saudaranya bila ia berbuat salah sebanyak satu atau dua kali. Pada kali yang ketiga menurut hukum Taurat, umat Yahudi memiliki hak membalas kesalahan saudaranya. Jadi dengan mengusulkan tujuh kali, Petrus berpikir ia sudah jauh lebih baik dari pengajaran hukum Taurat.

Tak disangka Yesus menjawab, "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Angka tujuh menunjukan sesuatu yang sempurna, sedang angka sepuluh menunjuk pada hal yang lengkap dan utuh. Artinya hendaknya manusia (umat Kristiani) mengampuni saudaranya setiap kali saudaranya bersalah, meski sampai 70 kali bersalah.

Hanya manusia bijaksana saja yang mampu menghayati pengampunan dalam arti yang sebenarnya. Solzhenitsyn suatu ketika mengatakan, manusia berbeda dari binatang bukan karena kemampuan berpikir kita, melainkan kemampuan kita untuk bertobat, dan mengampuni. Manusia menduduki hirarkis tertinggi dalam order penciptaan karena mampu mengampuni. Sayangnya, dalam keadaan terluka kita sering lupa manusia memiliki kemampuan untuk mengampuni atau memaafkan.

Dengan memaafkan siapapunn yang bersalah, sebenarnya kita juga menyembuhkan luka atau penyakit yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan demikian kita menjadi manusia yang sehat. Pengampunan memang terbukti kesembuhan. Hubungan antara pengampunan dan kanker telah diselidiki lama oleh para ahli kanker. (O. Carl Simonton, M.D., Stephanie Matthews-Simonton, and James L. Creighton, Getting Well Again, New York, NY: Bantam Books, 1978).

Urusan Hukum Soeharto
Jadi terkait Soeharto, dari sisi ajaran agama yang ktia anut, kita sebaiknya memaafkannya. Meskipun Pak Harto tidak mau minta maaf, terserah saja pada kita semua, baik yang pendukung atau penentangnya untuk mau memaafkan. Seperti mendiang Paus Yohannes Paulus II memaafkan penembaknya Mehmet Ali Agca, bahkan memeluk dan berbincang di ruang penjara, tapi jangan lupa toh pengadilan Italia tetap menghukum Ali Agca. Kita bisa memaafkan Soeharto, tapi kita tidak bisa mencampuri urusan hukum Soeharto. Sebagai sesama ciptaan Tuhan, kita memaafkan Soeharto. Tetapi sebagai warga negara Indonesia, kita serahkan urusan Soeharto pada pemerintah dan pengadilan negeri ini.

Seperti kita tahu, Presiden SBY tetap mengambil keputusan untuk mengadili Seoharto jika kelak Pak Harto sudah sembuh. Pakar hukum yang menjadi penasihat Presiden SBY Adnan Buyung Nasution menuding, pihak yang mengusulkan supaya mantan Presiden Soeharto diampuni tanpa melalui mekanisme hukum malah tidak memiliki nalar. Mereka sebenarnya hanya ingin membalas budi atas tindakan yang telah diberikan Soeharto pada saat berkuasa tanpa mempedulikan keadilan di tingkat masyarakat. Dia menambahkan pengampunan terhadap Soeharto hanya dapat dilakukan melalui proses pengadilan yang fair.

Rekonsiliasi Nasional
Ada satu permintaan penulis, jika kita bisa memaafkan Soeharto, kita juga harus memaafkan para Koran HAM di awal rejim Soeharto berkuasa, yakni mereka yang dituduh terlibat PKI atau Peristiwa 1965. Sebagaian dari korban HAM itu juga ikut membesuk Pak Harto. Harus diakui banyak dari kita masih belum bisa memaafkan mereka yang dituduh terlibat PKI(1965). Terkait Peristiwa 1965, masih cukup banyak anak bangsa sungguh menghidupi apa yang menjadi ajaran sastrawan dan filosof eksistensialis Prancis Jean Paul Sartre “l'enfer, c'est l'autret” atau “orang lain adalah neraka”. Pemaafan atau rekonsiliasi menjadi tak mudah sehingga dendam dan kebencian masih subur di sana sini.

Bahkan anak cucu mereka yang tidak tahu Peristiwa 1965 ikut menanggung stigma dan menjadi sasaran kebencian. Tan Malaka yang diangkat Bung Karno jadi pahlawan, di era masa Soeharto dicoret dari daftar pahlawan nasional.

Jadi kalau kita bisa berempati pada Soeharto dengan memaafkannya, maka kita juga harus berempati pada para korban HAM semasam rejim Soeharto? Kalau kita berani mengakui jasa-jasa Pak Harto, kita juga harus mengakui jasa-jasa Tan Malaka dan mereka yang berseberangan dengan Seoharto. Jadi kita jangan pilih kasih atau diskriminatif dalam memaafkan atau mengakui kontribusi seseorang.

Setidaknya dengan bisa memaafkan baik Soeharto maupun lawan dan korban politiknya, akan tercipta rekonsiliasi sejati di negri ini. Dengan demikian kita tidak akan terus dibelenggu persoalan masa lalu. Kita perlu menjadikan Mandela sebagai guru dalam hal ini. Dalam bukunya, Long Walk To Freedom Mandela menulis : “Aku ingin Afrika Selatan melihat bahwa aku mencintai musuh-musuhku, sementara aku membenci sistem yang menyebabkan kita bermusuhan.” Dengan spirit kasih seperti itu, Mandela berhasil mewujudkan cita-cita rekonsiliasi Afrika Selatan.

Betapa indahnya jika Indonesia, negeri yang memproduksi batik yang digemari Mandela ini, juga memakai spirit Mandela untuk berani memaafkan, bukan hanya untuk Pak Harto tapi juga siapapun. Dengan memaafkan, kita bisa membangun jembatan ke masa depan, seperti dikatakan Newton Bremer di awal tulisan ini. Bagiamana?

Tom Saptaatmaja
Kolumnis, Alumnus STFT Widya Sasana Malang (1992)
.

Sabtu, 26 Januari 2008

Dewi Persik

 
Akibat sering pamer aurat, Dewi Persik ketiban apes lagi. Semalam (Rabu, 23/1) usai mengisi sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta, payudara milik mantan istri Saiful Jamil itu digerayangi penggemar. Sebelumnya sang pengemar iseng curi-curi gambar payudara Dewi Persik dengan kamera hp saat sang idola sibuk diwawancari. Penasaran dan tak tahan, dikira payudara 'milik negara', sang pengemar main towel saja. Karuan saja merasa barang pribadinya digerayangi Dewi pun naik pitam. Bogem mentah pun melayang, usai meluapkan kemarahan Dewi lari ke mobil sambil nangis.
sumber:kapanlagi.com
(wwn)

Senin, 14 Januari 2008

PESAN



PESAN
by. soe hok gie

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tirani
Aku mengenali mereka yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator dan yang tanpa uang mau memberantas korupsi?
Kawan-kawan Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini