Senin, 28 Januari 2008

Pak Harto Mangkat



Dokumentasi Harian Kompas dan Persda Network. (dari kiri ke kanan) Potret HM Soeharto dari tanggal 6 Maret 1956 sampai 5 Mei 2006. Mantan Presiden RI dan penguasa orde baru ini dinyatakan wafat pada 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan.
(FILE KOMPAS-PERSDA NETWORK/BIAN HARNANSA


Monday, 28 January 2008
JAKARTA, Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Mantan presiden kedua RI, HM Soeharto tutup usia Minggu (27/1), setelah menjalani perawatan intensif selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Pak Harto, yang lahir di Yogyakarta 8 Juni 1921, meninggal dunia tepat pukul 13.10 WIB, dalam usia belum genap 87 tahun. "Telah wafat dengan tenang bapak Haji Muhammad Soeharto pada pukul 13.10 WIB di RSPP. Semoga amal beliau diterima dan diampuni dosanya oleh Yang Maha Kuasa," ujar Dr Mardjo Soebiandono, kepala Tim Dokter Kepresidenan dalam keterangannya kepada wartawan.

Jumpa pers singkat, selama lima menit, terasa mengharukan. Mata tim dokter tampak berkaca-kaca. Pihak keluarga menangis haru. Tiga anak Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), Siti Hediati Hariadi (Mbak Titiek) dan Sigit Harjojudanto yang ikut bersama tim dokter tampak sangat kehilangan. Tutut, Titik dan Sigit yang mengenakan baju hitam, dan mata mereka sembab.
"Asragfirullah...astagfirullah...astagfirullah.., inna lillahi wa inna illaihi roji'un," kata Tutut dengan suara terisak mengawali keterangannya.

Putri sulung Soeharto itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjenguk ayahnya selama di rawat di RSPP. Juga, pihak yang telah ikut memberikan bantuan doa kepada Soeharto. "Saya mewakili keluarga memohon agar semua kesalahan bapak dimaafkan. Semoga diterima semua amal baiknya dan diampuni semua dosanya," kata Tutut sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan putih.

Tim dokter yang merawat Soeharto menegaskan, wafatnya Soeharto disebabkan karena kegagalan multiorgan. Namun, beberapa dari mereka menyebut bahwa wafatnya Soeharto terjadi begitu cepat. Begitu pengakuan sejumlah dokter yang merawat Soeharto. "Saat saya meninggalkan rumah sakit pukul 23.00 WIB Sabtu (26/1) malam, kondisi Pak Harto sangat baik. Kesadaran masih bagus. Pernafasan juga bisa spontan. Beliau juga masih bisa makan," kata Dr Christian A Johannes, anggota tim dokter

Apalagi, fase sangat kritis bukanlah hal baru bagi Soeharto. Sebelumnya, Soeharto mampu melewati tiga kali fase sangat gawat. Pada Jumat, 11 Januari silam, kondisi Soeharto sangat kritis. Bahkan, kabar ia meninggal sudah beredar. Kediaman di Cendana juga bersiap-siap. Namun, kondisinya membaik. Begitu juga saat kembali mengalami fase kritis pada 13 dan 15 Januari, Soeharto mampu melewatinya dan membaik.

Namun, tubuh Soeharto tidak mampu kembali ke kondisi membaik saat menghadapi fase kritis keempat kalinya kemarin. Setelah Sabtu (26/1) pukul 23.00 WIB membaik, pada Minggu (27/1) dini hari pukul 01.00 WIB, kondisi Soeharto mendadak memburuk. Terjadi sesak nafas yang diikuti dengan tekanan darah yang terus menurun.

Tim dokter kemudian melakukan tindakan resusitasi dengan mengambilalih pernafasan 100 % dengan ventilator (alat bantuan pernafasan). Tapi, bukannya membaik, pada pukul 03.00-07 WIB, kondisi Soeharto makin menurun.
Tanda-tanda kondisi Soeharto makin gawat terlihat saat tim dokter menggelar jumpa pers pada pukul 10.00 WIB. Tim dokter menyebut kondisi Soeharto pagi itu adalah yang terburuk sejak dirawat di RSPP. Bahkan, mereka menggunakan kata “laporan khusus” untuk jumpa pers pagi itu guna menekankan kondisi gawat Soeharto itu.
"Kondisi pagi ini yang paling jelek selama beliau dirawat. Tapi, kami akan tetap berupaya maksimal. Namun, Tuhan yang menentukan," ujar Dr Mardjo.

Dan memang, dokter hanya mampu berupaya untuk melakukan tindakan pertolongan. Tuhan yang menentukan. Pukul 13.10 WIB, Soeharto berpulang, meninggalkan dunia.
"Wafatnya Pak Harto terjadi begitu cepat. Kami begitu percaya kondisinya membaik. Itu karena empat hari terakhir, masalah jantung sudah teratasi. Begitu juga dengan masalah pada organ lainnya. Dan sejak kritis dinihari tadi, tim dokter juga sudah melakukan segala upaya. Tapi, darah sudah naik ke atas (otak). Obat-obatan juga tidak bisa direspon," ujar Dr Ahmad Munawar, juga anggota tim dokter.

Kabar meninggalnya Soeharto itu kali pertama diberitahukan oleh Kapolsek Kebayoran Baru, Ricky Sandoni. Sekitar pukul 13.15 WIB, Ricky turun dari lantai 5 RSPP (tempat Soeharto dirawat) dan mengabarkan kabar duka tersebut.
Suasana di RSPP pun mendadak riuh. Polisi berjaga ketat. Satu peleton pasukan Kopassus sat 81 juga berbaris di depan RSPP.
Ratusan manusia berjubel-jubel di pintu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSPP. Selain warga sekitar RSPP, para pembesuk pasien di RSPP juga ikut berhamburan keluar. Jalanan penuh sesak. Beberapa warga tampak juga memanjat pohon di luar pagar RSPP demi melihat momen tersebut. Mereka ingin menyaksikan langsung detik-detik dimasukkannya jenazah almarhum Soeharto ke mobil ambulans untuk dibawa ke Jalan Cendana 8, Menteng, Jakarta, untuk kemudian dimandikan.

Pukul 14.35 WIB, jenazah Soeharto dimasukkan ke mobil ambulans. Dengan dikawal dua mobil patwal, juga diikuti tujuh mobil yang ditumpangi keluarga, sirine ambulans meraung dan meninggalkan RSPP.
Dalam perjalanan menuju ke Cendana, tampak sejumlah warga di pinggir jalan memberi penghormatan pada iring-iringan mobil pembawa jenazah. Namun, beberapa di antara mereka ada juga yang berujar “Itu (ambulans) Presiden Soeharto”.

Sekitar pukul 14.55 WIB, jenazah Soeharto tiba di rumah keluarga Jl. Cendana. Saat mobil jenazah berwarna biru telur masuk ke halaman rumah, sejumlah perempuan pelayat langsung menyambutnya dengan teriakan histeris. Hanya selang beberapa detik, pintu gerbang rumah langsung ditutup.
Pada pukul 21.00 WIB, pintu gerbang Cendana dibuka, dan masyarakat umum diberi kesempatan untuk melayat meski dengan seleksi cukup ketat.jbp/had/ant


Tidak ada komentar: