ENTAH kenapa aku begiu susah untuk mengawali menuliskan pengalaman perjalanan ku ke kota Palu, Sulawesi Tenggah, 21-25 Januari 2007. Bahkan, ketika masuk dalam kalimat ini, aku masih mengalami kesulitan. Entahlah kenapa. Mungkin ini semua disebabkan beberapa kejadian sebelum berangkat yang tidak membuatku nyaman.
Pertama adalah tiket yang dibelikan kantor. Awalnya, aku berangkat ke Palu Senin, 21 Januari 2007 pukul 17.00 WIB. Tapi Sabtu sore aku di telp kantor yang mengabarkan bahwa jam keberangkatan ku berubah jadi pukul 08.45 WIB. Saya pun diminta untuk ganti tiket. Sabtu sore itu juga saya ke Anta Travel untuk ganti tiket. Hujan deras yang turun tak menyurutkan niatan ku untuk ke Anta Travel, di Jalan Bengawan Surabaya. Tapi, sesampainya di sana, travel sudah tutup."Kalo Sabtu, tutup jam 1 siang mas," kata petugas penjaga di pos keamanan. Dengan penuh kekecewaan, akhirnya saya pulang.
Pertanda buruk kedua adalah, pada hari Minggu atau sehari sebelum berangkat. Minggu siang, aku kembali menggurus soal tiketku ke Bandara Juanda Surabaya. Sesampainya di bandara, ternyata petugas tiket tidak bisa melayani karena sedang libur. Ah, sial sekali aku ini.
Apakah ini sebagai pertanda buruk terhadap perjalanan LOT ku ke Palu? Ternyata dugaan ku gak meleset. Diawali dari Bandara Hasanudin Makasar, tempat saya transit sebelum melanjutkan ke Palu. Saya tiba di bandara Hasanudin Makasar ini pukul 11 siang WITA. Artinya saya harus menunggu di bandara 5 jam di Bandara. Bisa dibayangkan, 5 jam menunggu di bandara sendirian. Rupanya kesialan ku gak berhenti disitu. Pesawat yang ke Palu sedianya berangkatjam4, ternyata mengalami keterlambatan hingga jam 5 sore. Artinya, pesawat ke Palu baru berangkat jam 5 sore. Artinya lagi, saya harus menunggu 1 jam lagi. Total, 5 jam nunggu di bandara.
Akhirnya, pesawat ke Palu berangkat juga sekitarpukul 5 sore. Sekitar 45 menit perjalanan ke Palu, kunikmati betul indahnya alam ciptaan Tuhan. Aku begitu menikmatinya, hingga aku tak sadar tertidur. tahu-tahu, pesawat ku telah mendarat di Bandara mutiara Palu. Saat menunggu bagasi, muncul sosok yang blum pernah aku temui : Jafar Galunggung Bua. DIa adalah koresponden TransTV di Palu, Sulawesi Tengah. Jafar adalah sosok yang lucu, unik dan punya totalitas bekerja. Semangatnya luar biasa dalam bekerja. Aku bersyukur pernah mengenalnya dan pernah bekerjasama dengan dia.
Pertama adalah tiket yang dibelikan kantor. Awalnya, aku berangkat ke Palu Senin, 21 Januari 2007 pukul 17.00 WIB. Tapi Sabtu sore aku di telp kantor yang mengabarkan bahwa jam keberangkatan ku berubah jadi pukul 08.45 WIB. Saya pun diminta untuk ganti tiket. Sabtu sore itu juga saya ke Anta Travel untuk ganti tiket. Hujan deras yang turun tak menyurutkan niatan ku untuk ke Anta Travel, di Jalan Bengawan Surabaya. Tapi, sesampainya di sana, travel sudah tutup."Kalo Sabtu, tutup jam 1 siang mas," kata petugas penjaga di pos keamanan. Dengan penuh kekecewaan, akhirnya saya pulang.
Pertanda buruk kedua adalah, pada hari Minggu atau sehari sebelum berangkat. Minggu siang, aku kembali menggurus soal tiketku ke Bandara Juanda Surabaya. Sesampainya di bandara, ternyata petugas tiket tidak bisa melayani karena sedang libur. Ah, sial sekali aku ini.
Apakah ini sebagai pertanda buruk terhadap perjalanan LOT ku ke Palu? Ternyata dugaan ku gak meleset. Diawali dari Bandara Hasanudin Makasar, tempat saya transit sebelum melanjutkan ke Palu. Saya tiba di bandara Hasanudin Makasar ini pukul 11 siang WITA. Artinya saya harus menunggu di bandara 5 jam di Bandara. Bisa dibayangkan, 5 jam menunggu di bandara sendirian. Rupanya kesialan ku gak berhenti disitu. Pesawat yang ke Palu sedianya berangkatjam4, ternyata mengalami keterlambatan hingga jam 5 sore. Artinya, pesawat ke Palu baru berangkat jam 5 sore. Artinya lagi, saya harus menunggu 1 jam lagi. Total, 5 jam nunggu di bandara.
Akhirnya, pesawat ke Palu berangkat juga sekitarpukul 5 sore. Sekitar 45 menit perjalanan ke Palu, kunikmati betul indahnya alam ciptaan Tuhan. Aku begitu menikmatinya, hingga aku tak sadar tertidur. tahu-tahu, pesawat ku telah mendarat di Bandara mutiara Palu. Saat menunggu bagasi, muncul sosok yang blum pernah aku temui : Jafar Galunggung Bua. DIa adalah koresponden TransTV di Palu, Sulawesi Tengah. Jafar adalah sosok yang lucu, unik dan punya totalitas bekerja. Semangatnya luar biasa dalam bekerja. Aku bersyukur pernah mengenalnya dan pernah bekerjasama dengan dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar