Jumat, 15 Februari 2008

Geisha



Walau menurut banyak orang, 98% kepala laki-laki berisi uang dan seks dan 2% sisanya -cinta dan kebersamaan- ada di kepala perempuan, novel ini bukan sekadar bercerita tentang uang dan seks. Uang memang dibutuhkan dan seks memang dinikmati, tapi dalam cinta dan kebersamaan itulah Sang Hidup meletakkan sebuah arti.

(Penulis)
Sinopsis MATSUMI mungkin tidak akan menyangka kehidupannya sebagai 'putri' geisha terhempas begitu saja sejak dia meninggalkan Jepang. Terlahir sebagai anak nelayan miskin, MATSUMI harus dijual ketika usianya 13 tahun demi kelangsungan hidup keluarganya. MATSUMI akhirnya menjadi geisha yang sukses, cantik dan pintar. Sebagai geisha nomor satu di Kyoto, MATSUMI menjadi idaman setiap orang penting. Ketika Shosho (setingkat mayor Jendral/red) KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Indonesia, hidup MATSUMI mulai berubah. Pertama ia harus merubah namanya menjadi TJOA KIM HWA dan tidak boleh mengaku bahwa ia adalah orang Jepang.

Sebab pekerjaan sebagai geisha hanya ada di Jepang, tidak boleh ada orang yang tahu bahwa orang Jepang juga melacurkan diri hingga ke Indonesia. MATSUMI benci menjadi orang Cina yang menurutnya jorok. Lalu Shosho KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Surabaya, ke Kembang Jepun. Namun Kembang Jepun bukan seperti di Kyoto dulu. Gadis-gadis geisha di sana bukan orang Jepang, kebanyakan orang Jawa yang memang melacurkan atau terpaksa menjadi pelacur. Tidak ada gadis cantik dan pintar seperti di Kyoto dulu. Ketika Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, MATSUMI pun menjadi geisha kelas satu. Tarifnya mahal dan tidak semua orang bisa menjadi pelanggannya. Semua berubah ketika MATSUMI bertemu SUJONO kuli angkut toko kain milik Babah OEN. Demi SUJONO, MATSUMI meninggalkan kehidupan gemerlapnya sebagai geisha untuk menikah dan melahirkan anak SUJONO, KAGUYA. Kehidupan ternyata tak berjalan sebagaimana yang diinginkan MATSUMI. SUJONO telah memiliki anak dan istri, SUJONO tidak bekerja sehingga semua kebutuhan SUJONO dan keluarganya juga harus ditanggung MATSUMI. Ketika Jepang kalah kehidupan makin sulit untuk MATSUMI sampai ia tega meninggalkan KAGUYA dan SUJONO. MATSUMI kembali ke Jepang. Sementara SUJONO harus menghidupi KAGUYA di tengah rong-rongan istri tuanya yang selalu berlaku jahat pada KAGUYA. Deskripsi Dalam novel ini kita belajar bahwa kita tidak boleh menilai sesorang berdasarkan apa yang kita lihat di permukaan.

Ada banyak alasan yang mendasari seseorang berbuat jahat. Seperti yang dilakukan MATSUMI ketika meninggalkan anaknya. Bukan dia yang menghendaki perpisahan itu terjadi namun keadaan kadang membuat seseorang tidak dapat memilih. Dengan seting jaman penjajahan Jepang dan situasi Surabaya kala itu kita akan dibuat menyusuri jalan Kembang Jepun, Klenteng Boen Bio dan Jalan Slompretan yang hingga kini masih ada. Lan Fang sang penulis juga mampu membuat pembaca larut dalam emosi dengan penuturan yang sederhana dan mudah dipahami.

suarasurabaya.net
Judul Buku   : Perempuan Kembang Jepun
Penulis         : Lan Fang
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku   : 284 Halaman
















Tidak ada komentar: